Kultum Demokrasi, Kejujuran Tanpa Pengawas, Saat Jiwa Ditempa dan Hati Dimurnikan
|
Purwodadi – Bulan Ramadan bukan sekadar bulan yang datang sebagai tamu tahunan bagi umat Islam. Lebih dari itu, Ramadan hadir sebagai guru yang lembut, guru yang tidak banyak bicara, tetapi mampu mengubah jiwa setiap orang yang menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
Pesan tersebut disampaikan oleh Dosen Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Grobogan (ITB-MG), Danang Kuswardono, dalam kegiatan Kultum Demokrasi yang disiarkan secara daring selama bulan Ramadan.
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga
Dalam tausiyahnya, Danang menjelaskan banyak orang masih memaknai puasa sebatas menahan lapar dan dahaga. Padahal, menurutnya, rasa lapar hanyalah pintu masuk menuju tujuan yang lebih dalam, yakni pengendalian diri dan latihan keikhlasan.
“Seringkali kita memaknai puasa hanya menahan lapar dan dahaga. Padahal lapar itu hanya pintu masuk. Intinya adalah pengendalian diri dan melatih keikhlasan,” ujarnya, Jumat (6/03/2026).
Ia mengutip Hadits Qudsi yang menyebutkan puasa memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah lain. Dalam hadits tersebut Allah berfirman puasa adalah ibadah yang khusus untuk-Nya dan Dia sendiri yang akan membalasnya.
Ramadan, Latihan Kejujuran Tingkat Tinggi
Menurut Danang, keistimewaan puasa terletak pada sifatnya yang sangat personal. Berbeda dengan shalat atau sedekah yang bisa terlihat oleh orang lain, puasa tidak dapat dipastikan oleh siapa pun selain Allah.
“Shalat bisa terlihat, sedekah bisa diketahui orang lain. Tetapi puasa hanya benar-benar Allah yang tahu. Kita bisa saja berpura-pura berpuasa, tetapi siapa yang bisa mengawasi? Hanya Allah,” jelasnya.
Ia menambahkan Ramadan sejatinya adalah latihan kejujuran tingkat tinggi. Tidak ada kamera pengawas, tidak ada presensi digital, dan tidak ada saksi manusia, hanya hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Menahan Diri, Menguatkan Otot Spiritual
Lebih lanjut, Danang menggambarkan bagaimana Ramadan mengubah hal-hal sederhana menjadi ujian spiritual. Air putih yang biasanya bisa diminum kapan saja, di bulan Ramadan justru menjadi tantangan yang harus ditahan hingga waktu berbuka.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan cara Allah melatih manusia untuk mengendalikan berbagai hal dalam diri, mulai dari amarah, lisan, pandangan, hingga hati.
“Allah melatih kita menahan amarah, menahan lisan dari gosip dan kata-kata kasar, menahan mata dari hal yang tidak pantas, serta menahan hati dari iri dan dengki,” katanya.
Ia juga mengingatkan puasa bukanlah ibadah yang melemahkan manusia, melainkan ibadah yang justru menguatkan “otot spiritual”. Namun dalam praktiknya, banyak orang mengalami penurunan semangat ibadah ketika Ramadan memasuki pertengahan hingga akhir bulan.
Menurutnya, hal tersebut kerap terjadi karena ibadah masih dibangun di atas harapan pujian atau penghargaan dari manusia.
“Seringkali kita semangat di awal Ramadan, kemudian melemah di pertengahan. Itu karena kita masih mencari pujian dan berharap dihargai manusia,” ungkapnya.
Menguatkan Akar Keikhlasan
Danang mengibaratkan keikhlasan seperti akar pohon yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan kekuatan batangnya. Jika akar tersebut rapuh, maka pohon pun mudah tumbang.
Di akhir tausiyahnya, ia mengajak umat Islam untuk memperbaiki niat dan memanfaatkan kesempatan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang yang tahun lalu bertemu Ramadan masih diberikan kesempatan yang sama pada tahun ini.
“Mari kita isi Ramadan ini dengan ibadah yang sungguh-sungguh, niat yang bersih, hati yang lembut, dan lisan yang terjaga. Semoga puasa kita tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga mengangkat derajat kita,” pungkasnya.
Ia berharap, melalui latihan spiritual selama Ramadan, umat Islam dapat keluar dari bulan suci tersebut dengan derajat ketakwaan yang lebih tinggi.
Penulis: Alif Lathifah
Editor: Humas Bawaslu Grobogan