Mata Pengawasan Demokrasi dari Generasi Muda
|
Purwodadi – Bawaslu Kabupaten Grobogan terus memperluas pengawasan partisipatif melalui kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) yang diikuti 40 siswa/siswi SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Grobogan, Senin (15/06/2026). Kegiatan ini berlangsung di Candi Joglo yang merupakan, ikon Kabupaten Grobogan,
40 siswa yang bergabung dalam giat ini merupakan kelompok pramuka di pangkalan/sekolah masing-masing. Harapan ke depan mereka dapat bergabung menjadi bagian Saka Adhyasta Pemilu, yang merupakan Saka rintisan Bawaslu.
Giat ini menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal dan terlibat dalam pengawasan pemilu sejak dini. Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Wahyudi Sutrisno. Dalam sambutannya, ia menegaskan peran generasi muda sangatlah penting dalam pemilu.
“Pemilu bukan tanggung jawab penyelenggara semata. Semua pihak dapat ikut andil dalam mengawasi jalannya demokrasi. Karena itu kami mengajak adik-adik semua untuk terlibat. Pemilih terbanyak saat ini berasal dari generasi milenial dan Gen Z, bahkan pada Pemilu 2029 sekitar 70 persen akan diisi generasi Alpha. Adik-adik inilah yang nantinya menjadi pemilih pemula sekaligus penentu masa depan demokrasi,” ujar Wahyudi.
Menurut Wahyudi, Bawaslu Jawa Tengah terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengawasan pemilu. Saat ini, pengawas partisipatif di Jawa Tengah telah tersebar melalui di 437 Desa Pengawas, 4.715 kader pengawas partisipatif, serta sekitar 1.400 kader Pramuka yang aktif terlibat dalam kegiatan pengawasan.
Ia juga mengingatkan tantangan pengawasan pemilu ke depan akan semakin banyak terjadi di ruang digital. Kemajuan teknologi, penggunaan kecerdasan buatan (AI), maraknya disinformasi, berita bohong, hingga fenomena post-truth menjadi tantangan yang harus dipahami generasi muda.
“Semua akan menggunakan internet. Pelanggaran pemilu yang mendominasi ke depan berpotensi terjadi di ruang digital. Ada deepfake AI, disinformasi, berita bohong, hingga fenomena post-truth ketika seseorang lebih mempercayai sesuatu karena kesukaannya, bukan berdasarkan fakta. Karena itu kami membutuhkan generasi muda yang melek teknologi untuk ikut mengawasi,” jelasnya.
Wahyudi juga mengapresiasi kepada para peserta yang telah bergabung sebagai pengawas partisipatif.
“Terima kasih kepada adik-adik Pramuka yang telah bergabung menjadi pengawas partisipatif. Semangat mengawasi pemilu harus terus dijaga karena demokrasi yang sehat membutuhkan keterlibatan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Bawaslu Kabupaten Grobogan, Fitria Nita Witanti, saat membuka kegiatan menyampaikan Pendidikan Pengawas Partisipatif merupakan bagian dari upaya menyiapkan estafet pengawasan demokrasi kepada generasi muda.
“Tujuan Pendidikan Pengawas Partisipatif adalah melanjutkan estafet pengawasan pemilu. Adik-adik kami harapkan menjadi pionir pengawasan di lingkungan masing-masing. Mengapa masyarakat penting? Karena pada hakikatnya demokrasi adalah milik rakyat, dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi dan pemilu yang berintegritas,” ujar Fitria.
Penyampaian materi dengan berbagai model pembelajaran menambah warna dalam pendidikan partisipatif. Mulai dari model ceramah, simulasi, kuis hingga diskusi kelompok. Adanya fasilitator menambah cair suasana saat materi disampaikan oleh narasumber.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Grobogan berharap lahir generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap demokrasi, mampu mengenali potensi pelanggaran pemilu, sengketa pemilu serta aktif menjadi bagian dari pengawasan partisipatif di tengah perkembangan teknologi dan informasi yang semakin dinamis.
Penulis: Alif Lathifah
Editor: Humas Bawaslu Grobogan